Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya – Kami menggunakan cookie untuk memberi Anda pengalaman terbaik di situs web kami. Jika Anda melanjutkan, kami berasumsi bahwa browser web Anda terbuka untuk menerima semua cookie dari situs web kami. Lihat Kebijakan Cookie kami untuk informasi lebih lanjut tentang cookie dan cara mengelolanya. Kebijakan Cookie

Epidemi difteri kembali muncul di berbagai wilayah Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi melaporkan adanya penyakit ini hingga November 2017. Apa itu difteri? Penyakit ini merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh bakteri

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Penyakit ini dapat menular dengan sangat cepat dan berbahaya karena ditularkan melalui udara, atau melalui bersin, batuk, makan dan minum di tempat yang sama, dll. Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Difteri tidak mengenal usia. Ini dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa, terutama anak-anak berusia satu hingga sepuluh tahun yang sangat rentan terhadap penyakit ini.

Difteri Adalah Penyakit Yang Disebabkan Oleh Bakteri, Kenali Gejala Dan Pengobatannya

(WHO), 7.097 kasus difteri dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Dari jumlah tersebut, Indonesia menyumbang 342 kasus.Sejak tahun 2011, wabah difteri telah menjadi masalah di Indonesia (KLB) dalam kasus difteri. 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 hingga 2016 dan jumlah ini menempatkan Indonesia pada urutan kedua setelah India yang memiliki jumlah kasus difteri tertinggi. Dari 3.353 orang yang terjangkit difteri, 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% orang yang terinfeksi tidak memiliki riwayat vaksinasi difteri yang lengkap.

Difteri merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi dan vaksinasi termasuk dalam program pemerintah Indonesia. Vaksin difteri bersama dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus disebut vaksin DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak harus mendapatkan 3 kali vaksin DTP. Pada tahun 2016, cakupan anak yang mendapatkan 3 kali vaksin DTP di Indonesia mencapai 84%, menurun dari cakupan DTP yang pertama sebesar 90%.

Paparan bakteri ini dapat dengan mudah terjadi, terutama pada orang yang tidak menerima vaksin difteri. Ada banyak cara penularan penyakit yang harus diwaspadai, seperti:

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat di tenggorokan, yang akhirnya menyebabkan sel-sel tersebut mati. Kadang-kadang difteri mungkin asimtomatik dan pasien mungkin tidak tahu bahwa dia terinfeksi. Jika mereka tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, mereka dapat menularkan penyakit ini kepada orang-orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum divaksinasi.

Kenali, Tangani Dan Cegah Difteri Serta Penyebarannya

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau masa sejak bakteri masuk ke dalam tubuh hingga munculnya gejala 2 hingga 5 hari. Gejala penyakit ini antara lain:

Difteri terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Luka akan sembuh dalam beberapa bulan, namun biasanya meninggalkan bekas luka di kulit.

Segera temui dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan salah satu gejala di atas. Penyakit ini harus ditangani dengan cepat untuk mencegah komplikasi.

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Jika seseorang diduga kuat menderita difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, meskipun hasil laboratoriumnya belum ada. Dokter akan menyarankannya untuk merawat dirinya sendiri di ruang terpisah di rumah sakit. Kemudian proses pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat yaitu antibiotik dan antitoksin.

Penyakit Difteri: Kenali Dan Cegah Sebelum Menyebar

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan mengobati infeksi. Dosis antibiotik tergantung pada keparahan gejala dan durasi penderita difteri.

Sebagian besar pasien dapat keluar dari ruang isolasi setelah minum antibiotik selama 2 hari. Namun, sangat penting bagi mereka untuk melanjutkan pemberian antibiotik sesuai resep dokter, yaitu selama 2 minggu.

Pasien kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat apakah ada bakteri difteri dalam darahnya. Jika bakteri difteri masih ada di tubuh pasien, dokter akan tetap menggunakan antibiotik selama 10 hari.

Sementara itu, penggunaan antitoksin membantu mengeluarkan racun atau difteri yang menyebar di dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan memeriksa apakah pasien alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sambil memantau perkembangan kondisi pasien.

Dinas Kesehatan Kota Depok

Bagi pasien yang mengalami kesulitan bernapas akibat penyumbatan selaput abu-abu di tenggorokan, dokter akan menganjurkan prosedur pengangkatan selaput tersebut. Sementara itu, penderita difteri yang memiliki gejala borok kulit disarankan untuk membersihkan bisul secara menyeluruh dengan sabun dan air.

Selain pasien, masyarakat sekitar juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat menular. Misalnya, keluarga yang tinggal bersama atau petugas medis yang merawat pasien difteri.

Dokter menyarankan mereka untuk menjalani tes dan meresepkan antibiotik. Kadang vaksin difteri diberikan kembali bila diperlukan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap penyakit ini.

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Difteri harus segera diobati untuk mencegah penyebaran penyakit dan komplikasi terbesar pada anak. Diperkirakan 1 dari 5 anak-anak dan orang dewasa di atas usia 40 tahun meninggal akibat komplikasi difteri.

Catatan Dan Pemikiran Prajurit Kesehatan Menghadapi Pandemi Covid 19

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, racun dari bakteri difteri dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang dapat berakibat fatal. Beberapa di antaranya adalah:

Pencegahan utama penyakit difteri adalah vaksinasi. Indonesia telah menerapkan program vaksinasi termasuk vaksin difteri selama lebih dari 5 tahun. Vaksin ini mencakup difteri, tetanus dan pertusis atau batuk rejan. Ada 3 jenis vaksinasi Difteri yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada kelompok umur yang berbeda. Vaksin difteri diberikan sebagai vaksin primer pada bayi (kurang dari 1 tahun) 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib 1 bulan. Selain itu, vaksinasi ulang diberikan pada anak usia 18 bulan sampai dengan 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; di kelas 1 SD diberikan 1 dosis vaksin DT, kemudian siswa kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, dan di kelas 5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

, yaitu kesenjangan atau gap imunitas antara penduduk suatu daerah. Kurangnya kekebalan ini disebabkan oleh pengelompokan kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini belum atau tidak lengkap divaksinasi. Akhir-akhir ini di beberapa wilayah Indonesia terjadi resistensi terhadap vaksinasi.

Jika vaksinasi DTP ditunda, vaksinasi selanjutnya tidak akan diulangi dari awal. Untuk anak di bawah usia 7 tahun yang belum mendapatkan vaksinasi DTP atau belum mendapatkan vaksinasi lengkap, masih dimungkinkan untuk melakukan vaksinasi berikutnya sesuai jadwal yang dianjurkan oleh dokter spesialis anak. Namun, bagi mereka yang berusia 7 tahun dan belum menyelesaikan vaksin DTP, ada vaksin sejenis bernama Tdap yang sebaiknya diberikan.

Panik Virus Corona, Masyarakat Lupa Difteri Lebih Berbahaya, Banyak Anak Belum Diimunisasi

Meski hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak, bukan berarti orang dewasa tidak bisa tertular atau menularkannya. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Aman Bakti Pulungan, SpA mengatakan bahwa orang dewasa bisa menjadi carrier.

Oleh karena itu, dr. Aman menyarankan orang dewasa untuk mendapatkan vaksin difteri juga karena daya tahan tubuh setiap orang sewaktu-waktu dapat melemah, untuk mencegah penyebaran penyakit ini. “(Imunisasi) setiap 10 tahun sekali, karena antibodi. Yang terbaik diberikan (vaksin),” imbuhnya.

Ada banyak kejadian tak terduga dalam hidup, untuk menghadapinya penting untuk melindungi kesehatan Anda dan setiap keluarga. Dengan SmartCare Executive, Anda akan merasa lebih rileks karena meringankan beban Anda dan keluarga. Liputan6.com, Jakarta Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Pada umumnya gejalanya adalah sakit tenggorokan, demam, kemudian terbentuknya lapisan antara amandel dan tenggorokan. Bahkan pada beberapa kasus yang parah, penyakit ini bisa menyebar ke organ tubuh lain seperti jantung dan sistem saraf. Beberapa pasien juga mungkin mengalami infeksi kulit.

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Menurut laporan dari indonesian-publichealth.com, diperkirakan 1,7 juta anak atau 5% anak usia dini di Indonesia terkena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (PD3I). Sebuah laporan WHO memaparkan bahwa hasil penilaian prevalensi penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin di Indonesia pada tahun 1972 memperkirakan 5.000 anak meninggal setiap tahun karena difteri dan 28.500 kasus difteri pada tenggorokan anak kecil.

Kegiatan Bias Dan Pemberian Imunisasi Hpv Di Sd Negeri 2 Majang Tengah Dampit

Namun, kebanyakan orang beranggapan bahwa difteri hanya berbahaya bagi anak-anak. Pasalnya, jadwal vaksinasi difteri umumnya untuk anak usia 2-18 tahun.

Padahal, difteri bisa berbahaya bagi orang dewasa juga, apalagi jika tidak ditangani dengan baik. Padahal, difteri pada orang dewasa bisa menyebabkan kematian.

Untuk membahas lebih dalam tentang berbagai masalah difteri, Liputan6.com berikut merangkumnya dari berbagai sumber, Rabu (5/8/2020).

* Fakta atau Hoax? Jika ingin mengetahui kebenaran informasi yang tersebar, silahkan WhatsApp ke nomor Liputan6.com Cek Fakta 0811 9787 670 cukup dengan mengetikkan kata kunci yang dibutuhkan.

Harian Nasional By Harian Nasional

Difteri sendiri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Klasifikasi difteri ini diambil dari penelitian yang dipublikasikan oleh repository.unsil.ac.id sebagai berikut:

Difteri jenis ini disebabkan oleh bakteri penghasil toksin (toksigenik). Secara umum, difteri dapat menyebabkan gejala yang parah bahkan kematian. Difteri pernapasan jenis ini juga terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Bentuk difteri yang paling umum. Gejala mungkin termasuk tonsilitis dengan pseudomembran kuning-hijau di salah satu atau kedua amandel. Pseudomembran dapat tumbuh di uvula, langit-langit lunak, orofaring, nasofaring, atau bahkan laring. Gejala mungkin termasuk mual, muntah dan disfagia.

Antisipasi Difteri Merebak Lagi Kenali Cara Penularannya

Difteri laring sering terjadi sekunder akibat difteri faucial. Difteri tracheolaryngeal dapat menyebabkan bentuk bullneck pada pasien difteri karena adenitis serviks dan edema yang terjadi di leher. Munculnya bullneck adalah tanda difteri yang parah, karena obstruksi pernapasan dapat terjadi karena pecahnya pseudomembran dan pasien mungkin memerlukan trakeostomi.

Mengenal Pentingnya Vaksinasi Dan Imuniasi

Ini adalah bentuk difteri yang paling parah. Keracunan menyebar dengan cepat dengan demam tinggi, detak jantung cepat, tekanan darah rendah dan sianosis.

Seringkali penyebaran selaput ketuban dimulai dari amandel, uvula, langit-langit mulut, hingga lubang hidung. Pola bullneck dapat terlihat, dan perdarahan dapat terjadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here