Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

29

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi – “Pak, Bu, Anda dan anak Anda menderita asma dan alergi. Mungkin sering terjadi kekambuhan, dan diperlukan lebih banyak perhatian.

Perkataan dokter spesialis anak yang kami temui di daerah Cibinong membuat kami kaget, seperti tersambar petir di bawah sinar matahari, ternyata Kifah sudah batuk-batuk sejak usia 3 tahun.

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Sejak mengetahui kondisi ‘lemah’ Kifah, saya tidak ingin terlalu berharap, saya tidak ingin berkecil hati karena ada seorang anak dengan kondisi ‘istimewa’. Asmanya sering kambuh, berakhir di ruang gawat darurat dan rawat inap. Bahkan di masa Pandemi Covid 19. Kami sangat takut, karena dikatakan bahwa mereka yang memiliki penyakit bawaan/komorbid lebih rentan terinfeksi Covid-19 bahkan berisiko kematian.

Olahraga Lebih Dari 150 Menit Per Minggu, Apa Manfaatnya?

Membesarkan anak dengan riwayat alergi dan asma memang tidak mudah. Apalagi bila dipicu oleh alergen, seperti debu, udara kotor/polusi, udara sangat dingin, udara sangat panas, kelelahan, emosi berlebihan, dll, biasanya memicu asma Kifah yang kambuh kembali. Duh, kalau sesak napas, susah sekali untuk tidak membawanya ke klinik atau IGD.

Kadang saya putus asa, saya takut Kifah tidak tumbuh dan berkembang dengan baik karena penyakit ini, apalagi dia biasanya tidak sekolah saat asmanya kambuh. Anak penderita alergi dan asma merupakan ‘ujian tersendiri’ bagi orang tuanya, karena banyak sekali hal yang harus dipikirkan, yang dapat melemahkan emosi dan membuat mereka merasa kewalahan.

Prof. dr. Budi Setiabudiawan, dr. Sp.A (K), M.Kes yang merupakan ahli imunologi dan alergi anak mengatakan bahwa anak dengan riwayat alergi (dalam kasus Kifah adalah asma) berdampak buruk bagi anak dan orang tuanya.

Anak-anak yang menderita alergi tentu rentan mengalami gangguan kesehatan. Ya itu betul. Dibandingkan saudara dan teman-temannya, Kifah adalah anak yang sangat mudah sakit. Sistem kekebalannya lebih lemah dari rekan-rekannya atau bahkan adik-adiknya.

Alergi Makanan, Ini Berbagai Penyebabnya Yang Perlu Diketahui

Ini adalah kekhawatiran terbesar saya dan membuat saya sangat gugup karenanya. Gangguan perkembangan pada anak, artinya anak dengan alergi berisiko mengalami gangguan perkembangan dibandingkan dengan anak yang normal atau tidak memiliki masalah kesehatan seperti alergi atau asma.

Mahalnya biaya berobat, keluar masuk rumah sakit, tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, anak yang alergi juga bisa menjadi salah satu penyebab keuangan keluarga tidak stabil / banyak biaya pasca kesehatan, karena mahalnya biaya pengobatan itu sendiri. Menghadapi situasi seperti ini juga bisa membuat orang tua rentan stres.

Anak alergi juga stres lho, Bu. Anak-anak bisa merasa tidak aman, terutama jika mereka tidak memiliki prestasi akademik. Anak-anak mungkin merasa rendah diri dan tidak ingin bersama. Kifah sendiri sering merasa insecure atau minder, karena merasa ‘berbeda’ dan tidak sesehat teman-temannya di kelas. Terkadang dia merasa diintimidasi dan prestasi akademiknya menurun, dan dia mogok di sekolah.

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Selain anaknya, orang tuanya juga mudah stres! Ya saya sendiri akui sangat stress menghadapi anak yang alergi, dan saya selalu berusaha untuk kuatkan mental. Bayangan tentang prestasi akademiknya, masa depannya, penyakitnya, menghantui saya dan suami saat membesarkan dan mendidik Kifah.

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan

“Iya saya sangat suka bermain bola, cita-cita saya ingin menjadi atlet dan masuk timnas, saya ingin mengharumkan nama bangsa Indonesia, tolong ya, Mi.” dia menjawab lagi.

Tentu saya ingat asma Kifah yang mudah kambuh, dan selalu mengganggu aktivitasnya di sekolah maupun di rumah. Bagaimana kisah ingin menjadi pemain sepak bola? Bukankah tubuh yang sempurna modal utama?

Ahaha, Kifah sebenarnya lahir di Bandung, kecintaannya pada Bandung masih terjalin dengan mendukung klub sepak bola kesayangannya yaitu PERSIB Bandung.

Karena menyukai dunia sepak bola, Kifah kini mengikuti ekstra kurikuler Futsal di sekolahnya dan sering mewakili sekolahnya dalam pertandingan persahabatan dan kompetisi di SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bogor.

Anak 6 9 Tahun

Pernahkah Anda mendengar istilah Kekuatan Dalam? Atau kekuatan dari dalam? Kekuatan Batin adalah kekuatan mental yang tercermin dari kekuatan karakter yang dimiliki setiap anak. Menurut Kak Seto Mulyadi (Psikolog Anak), orang tua harus selalu mendorong Kekuatan Batin anaknya agar kelak tumbuh menjadi anak yang berkarakter kuat dan percaya diri.

Tentu tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan hal tersebut, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan ya Moms. Orang tua berkewajiban untuk selalu belajar/meminta ilmu dan memfasilitasinya agar kekuatan batin anak muncul dan menjadi kekuatan yang dapat mengatasi segalanya.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa anak tidak bodoh, semua anak cerdas dengan bakat dan kecerdasannya masing-masing. Ada 8 kecerdasan anak yang harus kita ketahui sebagai orang tua, yaitu kecerdasan visual-spasial, linguistik (berbahasa), logika matematika, musik, kinestetik (berhubungan dengan fisik), interpersonal (berhubungan dengan diri sendiri), intrapersonal (berhubungan dengan orang lain), dan kecerdasan naturalistik (terkait dengan alam).

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Sayang sekali jika kita sebagai orang tua tidak mengetahui hal ini, dan beranggapan bahwa hanya anak pintar yang pandai matematika, sedangkan anak yang pandai olahraga belum tentu anak pintar. Padahal, dengan mengetahui bakat, potensi, dan kecerdasan anak, kita bisa membantu anak mengoptimalkan kekuatan batinnya.

Hati Hati, 4 Masalah Kulit Ini Akan Mengintai Saat Musim Kemarau

Kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua juga menyebabkan batin anak berjalan kurang baik. Misalkan kita sebagai orang tua ingin anaknya melakukan A, tapi jauh di lubuk hati anak, dia sangat ingin melakukan B.

Komunikasi yang tidak efektif antara orang tua dan anak dapat menghambat perkembangan kekuatan batin anak. Menurut beberapa psikolog, perilaku tidak terbuka antara orang tua dan anak, ketidakmampuan untuk mengungkapkan keinginan satu sama lain, mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Budaya yang tidak suka berbicara dengan anak/orang tua, atau adanya gadget yang menjadi kendala (orang tua dan anak sibuk dengan gadgetnya masing-masing), dapat menyebabkan tidak lancarnya proses komunikasi dalam keluarga.

Siapa di dunia ini yang sempurna? Bahkan kita sendiri sebagai orang tua sering melakukan kesalahan. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari semua kesalahan kita dan kemudian memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Bukti Penelitian, Bermain Tanah Justru Bagus Untuk Kesehatan Anak!

Inner Strength atau kekuatan dari dalam diri anak bisa keluar ketika anak juga memiliki ‘masalah’ atau tantangan dalam hidupnya. Ketika ia dapat menghadapinya, mencari solusi atau jalan keluar, maka ia akan mengolah kekuatan batin yang ada dalam dirinya menjadi kekuatan yang ‘melindungi’ dirinya dari berbagai masalah dan tantangan.

Intinya membiarkan anak melakukan kesalahan memberikan pendidikan bahwa kita harus menjadi pribadi yang kuat, setelah jatuh kita harus bangkit kembali, anak juga bisa belajar dari kesalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya. Jika ia berhasil bertanggung jawab dan belajar dari kesalahannya, ia juga akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Banyak orang tua yang takut untuk mendisiplinkan dan membuat anaknya mandiri karena tidak tega melakukannya. Saya ingat betul perkataan Ibu Elly Risman (Psikolog Anak dan Keluarga) bahwa kita sebagai orang tua wajib memberikan pengertian dan pendidikan kepada anak agar disiplin dan mandiri.

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Karena apa? Karena kita tidak bisa bersama selamanya. Suatu hari, kita akan membiarkan mereka berkeliaran, entah di mana mereka akan berdiri di masa depan.

Jantung Berdebar Kencang Usai Berolahraga, Harus Waspada?

Saya sangat setuju dengan hal ini, oleh karena itu mendisiplinkan kebebasan anak harus menjadi tujuan utama dalam mendidik anak, karena itu juga merupakan jalan kekuatan batin anak tersebut untuk tumbuh menjadi yang terbaik.

Beberapa psikolog mengatakan bahwa karakteristik anak-anak Generasi Z (lahir setelah 1995) atau bahkan anak-anak generasi kita memiliki kekurangan yaitu ‘cuek terhadap lingkungan’ Hal ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah paparan gadget. Setuju?

Jika saya melakukannya, saya setuju. Jika Anda mengenal istilah ‘MaBar’ atau ‘Main Bareng’ dalam game online untuk anak-anak saat ini, Anda pasti bisa membayangkan betapa cueknya mereka terhadap lingkungan sekitar. Meski berstatus ‘MaBar’, sebenarnya mereka sibuk dengan perangkat mereknya masing-masing. hehehe.

Phubbing, singkatan dari phone snubbing, mengacu pada perilaku orang yang lebih fokus menggunakan gadget daripada berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan. Istilah phubbing ditemukan pada tahun 2012 oleh sekelompok pakar bahasa (leksikon, fonetik), pakar debat, budayawan, dan sosiolog yang berkumpul di University of Sydney, Australia.

Jangan Kelewatan, Webinar Back To School Bersama Mha, Skip Hop Dan Mothercare!

Sedangkan Smombie adalah kependekan dari smartphone zombie, sebuah ungkapan yang sebenarnya memiliki konotasi buruk untuk penyebabnya. Untuk mendefinisikan perilaku, istilah ini digunakan. Smombie adalah seseorang yang terus-menerus menggunakan smartphone, ponsel, atau gadget sambil berjalan.

Hal ini membuat anak menjadi nomophobia (no mobile phone phobia), yaitu rasa cemas yang berlebihan saat tidak membawa dan tidak berinteraksi dengan gadget.

Kekuatan Batin tentunya lahir dari anak-anak yang bisa berempati, berperilaku baik di sekitarnya. Anak yang mampu bekerja sama, berkomunikasi dalam tim, pasti akan mengoptimalkan kekuatannya sendiri.

Persiapan Olahraga Bagi Anak Alergi

Tentu kita sangat ingin memiliki anak yang tumbuh dengan rasa empati yang tinggi dan perilaku yang baik dalam kesehariannya bukan?

Fix Ppk Pku Kra Alergi Obat

Sebagai orang tua tentunya kita sangat ingin mengoptimalkan kekuatan batin anak kita dengan kelima cara tersebut, lalu apa salah satu upaya kita untuk mewujudkannya?

Ketika melihat informasi tentang Bispuh Academy melalui video dan foto/flyer dengan visualisasi tentang sepak bola, saya langsung teringat Kifah. Saat itu saya melihatnya di jalan (di dalam mobil) dan langsung saya berikan Kifah informasi tentang Akademi Biskuat dan bertanya:

Mata Kifah langsung berbinar, ia sangat ingin mengharumkan nama negara Indonesia di kancah internasional dengan bermain sepak bola. Seperti yang diceritakan Pratama Arhan yang bermain sepak bola di Jepang, Asnawi Mangkualam yang bermain di Korea Selatan, Egy Maulana Vikri yang bermain di Slovakia dan Witan Sulaeman yang bermain di Polandia.

Jujur saya hafal pemain sepak bola karena hampir setiap malam Kifah akan bercerita tentang sepak bola di telinga saya, hehehe. Merekalah yang menjadi motivasi Kifah untuk bermain sepak bola dan bercita-cita menjadi atlet sepak bola profesional.

Gerakan Senam Hamil Yang Cocok Untuk Usia Kehamilan 8 Bulan

Olahraga diperlukan untuk anak-anak, untuk alasan kesehatan