Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma – Asma tidak boleh dianggap enteng. Namun, benarkah asma bisa menyebabkan kematian? Yuk, simak fakta lengkapnya di sini.

Sebagian orang menganggap asma sebagai gangguan pernapasan ringan dengan keluhan sesak napas saja. Bahkan, asma yang parah bisa menyebabkan kematian!

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Asma adalah gangguan pernapasan yang ditandai dengan kesulitan bernapas. Asma disebabkan oleh peradangan dan penyempitan saluran udara, membuat sulit bernapas.

Mengapa Persentase Kematian Akibat Covid 19 Di Indonesia Tinggi?

Asma dapat menimbulkan suara mengi yang disebabkan oleh sumbatan aliran udara dengan saluran udara yang menyempit. Serangan asma biasanya ringan atau tidak terlalu parah. Namun terkadang serangan asma yang tampak bisa sangat parah.

Serangan asma yang parah dapat menyebabkan sumbatan jalan napas yang menghalangi udara memasuki alveoli paru-paru. Alveoli adalah sel yang berperan dalam pertukaran antara oksigen dan karbon dioksida.

Jika sumbatan jalan napas parah, penderita asma juga akan mengalami kesulitan bernapas yang parah. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik, serangan asma dapat menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen, terhentinya pernapasan bahkan kematian.

Karena serangan asma dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius, kondisi ini harus ditangani dengan baik. Berikut adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi asma.

Hati Hati, Emosi Bisa Jadi Penyebab Asma Kambuh!

Jangan anggap enteng asma. Jika Anda atau kerabat dekat menderita asma, kendalikan penyakitnya untuk mengurangi risiko kematian. Jika serangan tersedak muncul dan menjadi tidak terkendali, segera temui dokter Anda.

Untuk informasi lebih lanjut tentang pemicu, perawatan, dan pencegahan asma, baca artikel kesehatan aplikasi. Perlu konsultasi ke dokter? Gunakan fitur live chat 24 jam. Per Selasa (7/4/2020), angka kematian COVID-19 Indonesia 8%—2,3% lebih tinggi dari angka kematian dunia.

Kematian COVID-19 diyakini terkait dengan usia dan penyakit penyerta. Proses pemulihan pasien dikaitkan dengan kekuatan sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus SARS-CoV-2.

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Waktu terus berjalan memasuki bulan keempat saat dunia bergulat dengan pandemi COVID-19. 208 negara berpartisipasi dalam perang melawan jenis virus baru ini. Beberapa negara menang, tetapi banyak negara lain kalah dan kehilangan ratusan, bahkan ribuan nyawa.

Thought Leader 2019 By Academy Of Sciences Malaysia

Data yang dihimpun Worldometers menunjukkan per 7 April 2020 pukul 18.00 WIB, jumlah kasus positif COVID-19 di seluruh dunia telah menembus angka 1,3 juta. Lebih dari 75.000 orang telah kehilangan nyawa karena terinfeksi virus ini. Meski demikian, jumlah pasien yang berhasil sembuh dan kembali hidup normal sekitar 293.000.

Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, dan Prancis adalah negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di dunia. Dari jumlah tersebut, jumlah kematian tertinggi dilaporkan dari tiga negara Italia, Spanyol dan Prancis. Tingkat kematian mereka masing-masing adalah 12,4 persen, 9,8 persen, dan 9 persen.

Negara kita telah mencapai angka kematian tertinggi 9,11 persen per Sabtu, 4 April 2020. Saat ini, berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Selasa, 7 April 2020), angka tersebut turun menjadi 8 orang. persen. Namun angka kematian global masih lebih tinggi dari 5,7 persen.

Indonesia memiliki 2.738 kasus yang dikonfirmasi dengan 221 kematian. Indonesia sudah disejajarkan dengan tiga negara dengan angka kematian tertinggi di dunia. Sebagai informasi, angka kematian dihitung dengan membagi jumlah pasien meninggal dengan jumlah kasus positif kemudian dikalikan 100 persen.

Benarkah Makan Tokek Dan Kelelawar Bisa Obati Asma? Ini Penjelasannya

Dilihat dari pernyataan World Health Organization (WHO), kematian individu berkaitan dengan usia dan riwayat kesehatan. Lansia dan/atau mereka yang memiliki kondisi medis mendasar seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, paru-paru, kanker, atau diabetes rentan terhadap infeksi COVID-19 dan memerlukan perawatan khusus.

Kelompok rentan berdasarkan usia Semakin tua orang, semakin parah risiko infeksi virus SARS-CoV-2. Sama halnya dengan orang yang memiliki penyakit seperti yang disebutkan di atas. Badan Kesehatan Masyarakat Nasional AS (CDC) mencatat bahwa 8 dari 10 kematian di Amerika terjadi pada orang berusia 65 tahun ke atas.

COVID-19 membawa 31-59 persen risiko rawat inap pada orang dewasa berusia 65-84 tahun. Risiko ini meningkat menjadi 31-70 persen saat Anda berusia di atas 85 tahun. Kemudian kelompok lansia juga memiliki risiko 6-31 persen mendapat perawatan intensif. Risiko kematian pada orang berusia 65-84 mencapai 4-11 persen dan menjadi 10-27 persen ketika berusia di atas 85 tahun.

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Statistik risiko kematian CDC tidak cocok dengan probabilitas di situs web Worldometer: 60-69 tahun 3,6 persen; 70-79 tahun 8 persen; 14,8 persen berusia di atas 80 tahun. Risikonya hanya 1,3 persen di antara mereka yang berusia 50-59 tahun, dan rentang usianya menyusut menjadi 0,4 persen di antara mereka yang berusia 40-49 tahun.

Fakta Terkait Serangan Asma Berat Atau Akut Yang Wajib Diketahui

Di Indonesia, data kelompok umur ini tidak dilaporkan dengan baik, sehingga risiko kematian tidak dapat ditentukan untuk kelompok rentan menurut umur. Namun, sedikit data yang dilaporkan di situs web Covid-19 Guard menunjukkan bahwa sekitar 40 persen dari mereka yang meninggal berusia di atas 60 tahun.

56 persen lainnya berada di kelompok usia 50-59 tahun. Data website juga menyebutkan bahwa kelompok usia 40-49 menyumbang 12,5 persen kematian dan mereka yang berusia di bawah 40 tahun menyumbang 6,25 persen. Artinya, tidak hanya lansia di Indonesia, tetapi juga pralansia (45-59 tahun) termasuk dalam kelompok risiko terpapar infeksi COVID-19 berat.

Mari petakan kelompok rentan menurut umur dari data Susenas Indonesia Maret 2019. Pada tahun 2019, persentase penduduk dewasa di atas usia 60 tahun sebesar 9,6 persen atau sekitar 25,64 juta jiwa, sedangkan persentase penduduk pralansia sebesar 17,16 persen. Separuh orang dewasa Indonesia mengalami keluhan kesehatan, dan persentasenya meningkat seiring bertambahnya usia.

Situasi ini diperparah dengan statistik penyakit serius yang mengkhawatirkan di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyajikan statistiknya. 34,1 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 18 tahun sudah menderita tekanan darah tinggi. Kemudian diabetes mencapai 10,9 persen pada orang berusia di atas 15 tahun.

Ada Apa Di Balik Covid 19? (sebuah Teori Konspirasi) Halaman 1

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) juga mencatat 1,5 persen orang menderita penyakit penyerta kardiovaskular, 3,7 persen menderita penyakit paru kronis, kanker dengan 1,8 kasus per juta penduduk dan 1,8 persen. Autoimun 3 persen Usia tua dan penyakit bawaan merupakan kombinasi faktor fatal yang dapat membawa risiko terburuk infeksi COVID-19 bagi Indonesia.

Cara sembuh dari infeksi COVID-19 Hingga saat ini, meski banyak negara berlomba-lomba memproduksi vaksin COVID-19, namun belum ada penawar untuk infeksi virus SARS-CoV-2. Dukungan adalah satu-satunya cara untuk pengobatan. Artinya meringankan gejala atau efek dari COVID-19. Misalnya, ketika pasien mengalami kesulitan bernapas, maka petugas kesehatan akan menyediakan alat bantu pernapasan.

Hanya ada satu cara untuk melawan virus ini, yaitu mempercayai kemampuan alami tubuh untuk membangun kekebalan. Sel darah putih dalam tubuh melawan virus dan patogen lain yang menginfeksi tubuh, dan ketika pertempuran dimenangkan, mereka menciptakan kekebalan.

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Namun menurut penelitian Harvard Medical School, sistem kekebalan bukanlah satu kesatuan. Mereka bekerja sebagai suatu sistem. Agar dapat berfungsi dengan baik, diperlukan keseimbangan dalam tubuh yang terus menerus terjalin. Kedengarannya seperti mitos, tetapi kuncinya adalah mengikuti gaya hidup sehat, berolahraga, dan makan makanan bergizi.

Gejala Asma Pada Anak, Pengobatan Dan Tanda Bahayanya

Diet dan olahraga berkontribusi pada sirkulasi sel-sel kekebalan yang melakukan tugasnya secara efisien. Gaya hidup yang buruk secara tidak langsung mengganggu sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Jika demikian, sistem kekebalan melakukan tugas ganda: melawan infeksi COVID-19 serta melawan penyakit bawaan.

Di Indonesia, Riskesdas 2018 menyebutkan 14,5 persen wanita usia subur menderita kekurangan energi kronis. Jumlah ibu hamil naik menjadi 17,3 persen. Kemudian persentase balita dan gizi buruk sebesar 17,7 persen. Ini menjadi masalah yang berkelanjutan karena setiap janin dari ibu yang kekurangan energi kronis dan anak kecil yang kekurangan gizi berisiko mengembangkan kekebalan rendah.

Terlepas dari itu, Indonesia bisa belajar dari Vietnam yang berhasil menyembuhkan seluruh pasien COVID-19. Hingga Rabu, 8 April 2020, total kasus di Tanah Air mencapai 251 orang, sembuh 122 orang, dan tidak ada korban meninggal dunia. Bahkan pasien tertua, 73 tahun, sembuh dari infeksi, meski termasuk kelompok rentan.

“Selama fase pemulihan, dokter akan menangani gejala pasien. Pasien diminta untuk mengikuti diet ketat bergizi. Kemudian tingkat saturasi oksigen darah pasien selalu dipantau,” tulisnya.

Covid 19 Is Real, Duka Suami Arumi Bachsin Emil Dardak Kehilangan Sahabat Kecilnya Pastor Raditya Oloan

Dr. Kidong Park, perwakilan WHO di Vietnam, mengatakan keberhasilan Vietnam merupakan hasil dari upaya aktif dan berkesinambungan dari pemerintah. Selain fokus pada status gizi masyarakatnya, dua minggu setelah kasus pertama COVID-19 diumumkan, Kementerian Kesehatan Vietnam langsung melarang sekitar 10.000 warga Son Loi keluar rumah selama 20 hari.

Alih-alih seperti Vietnam, Indonesia tampaknya masih berkutat menyelesaikan spektrum masalah di balik COVID-19. Mungkin Indonesia bisa mulai membuat data distribusi pasien transparan sehingga kelompok rentan bisa lebih berhati-hati dan lebih terlindungi. Gangguan pernapasan membuat penderitanya sulit bahkan tidak bisa melakukan aktivitas normal. Dalam beberapa kasus, asma dapat menyebabkan komplikasi asma yang bahkan berujung pada kematian.

Hingga saat ini masih banyak mitos dan fakta tentang asma yang beredar di Indonesia. Padahal, penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan komplikasi asma dan kematian. Di bawah ini adalah beberapa mitos dan fakta paling umum tentang asma di masyarakat.

Risiko Kematian Di Balik Penyakit Asma

Fakta: Asma adalah penyakit yang melibatkan paru-paru dan saluran udara. Gejala asma disebabkan oleh penyempitan saluran udara, peradangan. Hal ini dipicu oleh banyak hal seperti debu, cuaca dingin, serbuk sari dan tungau.

Gejala Asma Pada Anak: Penyebab Dan Cara Mencegahnya

Fakta: Masalah pernapasan pada asma terletak di alveoli, yang merupakan bagian dari paru-paru. Jadi, penyakit paru-paru bukan hanya TBC, tapi asma adalah penyakit paru-paru. Oleh karena itu, dokter yang menangani adalah dokter spesialis paru dan pernapasan.

Fakta: Asma adalah penyakit kronis