Akses Pangan, Kemiskinan, dan Gizi Bisa Jadi Persoalan Pemicu Stunting

12

JawaPos.com – Akses mendapatkan pangan berkualitas dan bergizi, masih sulit bagi sebagian masyarakat. Ini dinilai dapat memicu terjadinya gizi buruk dan mengancam terjadinya stunting atau anak bertubuh pendek. Karena itu, akses pangan yang bergizi dan berkualitas merupakan intervensi yang efektif untuk mencegah stunting.

Lembaga Amil Zakat Nasional serta Nazir Yayasan Wakaf Djalaluddin Pane (LAZ YWDP) Bukapangan menjelaskan mengkonsumsi pangan yang mengandung gizi yang tinggi sebaiknya dipenuhi oleh tiap keluarga demi mendukung tumbuh kembang anak.

Karena dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang akan menghasilkan generasi muda yang unggul dan berdaya saing, serta meminimalisir potensi anak mengalami stunting.

“Kami melihat hari ini persoalan pangan sangat pelik di tengah ketidakstabilan kondisi global dan ketergantungan atas pangan dari luar, membuat masyarakat miskin dan pra sejahtera tidak mampu mengakses pangan yang bergizi,” kata Ketua Dewan Pembina LAZ YWDP Bukapangan, Debby FL Pane dalam diskusi Bukapangan Leaders Talk di Jakarta baru-baru ini.

Presiden Direktur LAZ DWYP Bukapangan, Mirah Hartika yang mengatakan bahwa saat ini kemampuan masyarakat mendapatkan pangan yang bergizi semakin sulit karena harga yang tinggi. Ia berharap ada banyak program untuk mendukung ketersediaan pangan bergizi.

“Pertama, untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat, kedua, agar bisa mengakomodir banyak munfiq, muzaki serta para wakif untuk menyalurkan zakat infaq sedekah dan wakafnya,” jelas Debby.

Pangan Murah Berkualitas
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendukung kemudahan akses bagi masyarakat kurang mampu dalam memperoleh pangan murah yang bergizi dan berkualitas. Sandang pangan dan papan, kata dia, adalah kebutuhan mendasar kehidupan.

“Sayangnya pemenuhan atas ketiganya saat ini masih belum maksimal dan berkeadilan. Masih banyak masyarakat kita yang belum dapat mengakses makanan bergizi seimbang,” tegas Sandiaga.

Menurutnya, inisiasi program-program yang berfokus pada peningkatan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM), terutama dalam bidang pangan merupakan pendekatan yang kreatif di masa pandemi virus Korona (Covid-19).

“Pendekatan kreatif menjadi sebuah adaptasi dari sebuah kondisi pasca pandemi yang menjadi inovasi dalam mendukung ekonomi kreatif yang tentunya bersifat kualitas dan berkelanjutan,” jelas Sandiaga.

Prevalensi Stunting Turun
Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 21,6 persen di 2022. Standard WHO terkait prevalensi stunting harus di angka kurang dari 20 persen.

Kementerian Kesehatan melakukan intervensi spesifik melalui 2 cara utama yakni intervensi gizi pada ibu sebelum dan saat hamil, serta intervensi pada anak usia 6 sampai 2 tahun. Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin mengungkapkan, angka stunting tersebut disebabkan berbagai faktor, salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran.

Hal ini berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan mengkampanyekan pentingnya pemberian protein hewani kepada anak utamanya anak usia dibawah 2 tahun.

 

Source