Ayah Korban Kanjuruhan: Saya Tidak Butuh Donasi, Saya Butuh Keadilan

10

JawaPos.com – Devi Atok Yulfitri tidak akan pernah melupakan detik-detik memilukan itu. Saat dia mendapati kedua putrinya, Natasya Debi Ramadhani dan Nayla Debi Anggraeni, meninggal dalam kondisi wajah membiru kehitaman buntut insiden di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Selain dua remaja putri berusia 16 dan 13 tahun itu, meninggal pula ibunda mereka yang juga mantan istri Atok, Anggraeni, dalam insiden yang terjadi setelah laga Arema FC versus Persebaya Surabaya pada 1 Oktober tahun lalu itu.

Hidung dan mulut mereka, kata Atok, mengeluarkan busa yang berbau amonia. Baju yang dikenakan ketiga almarhum juga berbau amonia.

’’Baunya menyengat sekali dan tidak ada luka memar di badannya. Jenazah ditemukan di tribun, meninggal karena gas air mata,’’ tutur Atok dalam kesaksiannya dalam sidang kasus Kanjuruhan dengan terdakwa Abdul Haris (ketua panpel Arema FC) dan Suko Sutrisno (security officer Arema FC) di Pengadilan Negeri Surabaya kemarin (24/1).

Karena itu, Atok meragukan hasil otopsi terhadap dua jenazah anaknya yang disimpulkan tewas karena terinjak-injak. Kesimpulan itu bertolak belakang dari yang dia ketahui selama mengurus jenazah kedua anaknya. ’’Saya sendiri yang memandikan jenazah kedua anak saya. Demi Allah, dari ujung rambut hingga kaki tidak ada luka-luka karena benda tumpul,’’ lanjut Atok dalam kesaksiannya.

Atok mengaku kepergian orang-orang terkasihnya itu demikian memukulnya. Dia sampai tidak makan selama lima hari karena merasa sudah tidak ada harapan lagi. Dia mengaku sudah mendapat amplop dari Presiden Joko Widodo dan pihak lain. ’’Dua amplop (dari presiden dan satu lagi dari pihak yang tidak dia ingat, Red) sampai sekarang masih utuh di rumah, tidak saya buka. Saya tidak butuh donasi, saya butuh keadilan,” tegasnya.

Atok sudah menyampaikan ke Presiden Jokowi saat bertemu di RSSA, Kota Malang, agar oknum-oknum yang membunuh anaknya dihukum setimpal. “Pak presiden mengangguk mengiyakan,” tuturnya.

BERI KETERANGAN: Mantan dirut PT Liga Indonesia Baru Akhmad Hadian Lukita saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri Surabaya kemarin. (FOTO: ALLEX QOMARULLA/JAWA POS)

Sementara itu, eks Dirut Liga Indonesia Baru (LIB) Akhmad Hadian Lukita yang juga bersaksi dalam persidangan menegaskan bahwa Stadion Kanjuruhan telah lolos verifikasi dan dinyatakan layak menggelar pertandingan Liga 1. “Secara teknis layak dengan catatan. Saya tidak tahu catatannya dipenuhi atau tidak karena yang terakhir verifikasi PSSI, bukan LIB,” ungkap Lukita yang juga tersangka dalam kasus tersebut.

Mengenai pertandingan bertensi tinggi yang tetap digelar malam hari, Lukita mengakui pihaknya sempat menerima surat permohonan dari panpel Arema FC agar digelar sore hari. Namun, LIB menolaknya karena jadwal sudah disusun jauh hari bersama broadcaster selaku pemegang hak siar Liga 1. (gas/c17/ttg)

Source