Cek Kurang Gizi Pada Anak, Berat Badan Harus Naik Saat Ditimbang

11

JawaPos.com – Masalah stunting atau anak tumbuh pendek terkait erat dengan pemenuhan nutrisi. Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius yang di hadapi Indonesia. Untuk mencegahnya, orang tua diminta untuk memantau berat badan anak secara berkala.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dalam peringatan Hari Gizi Nasional ke-63 tahun 2023 yang mengusung tema ‘Protein Hewani Cegah Stunting’, masyarakat Indonesia harus melakukan upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang pada anak. Tidak hanya memberikan protein hewani pada anak, berat dan tinggi badan anak juga harus dipantau secara berkala di Posyandu.

“Ini penting untuk melihat keberhasilan intervensi sekaligus upaya deteksi dini masalah kesehatan gizi sehingga tidak terlambat ditangani,” kata Menkes Budi dalam keterangan resmi, Kamis (26/1).

“Karenanya kalau kita sayang anak-anak kita, tolong dipastikan kalau ditimbang berat badannya naik, kalau tidak naik segera bawa ke Puskesmas,” tambahnya.

 

Penyebab Stunting

 

Menkes Budi mengatakan stunting tersebut disebabkan berbagai faktor, salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran. Hal ini berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan mengkampanyekan pentingnya pemberian protein hewani kepada anak utamanya anak usia dibawah 2 tahun.

“Setelah bayi berusia 6 bulan harus rajin melakukan pengukuran, karena selain ASI eksklusif juga ada makanan tambahan, kalau kurang protein hewani anaknya bisa stunting. Protein hewani ini seperti susu, telur, ikan dan ayam,” kata dia.

Ia menekankan bahwa cara tersebut efektif mencegah stunting pada anak karena protein hewani mengandung zat gizi lengkap seperti asam amino, mineral dan vitamin yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti telur, daging atau ikan dan susu atau produk olahannya (keju, yogurt, dan lainnya. Penelitian tersebut juga menunjukan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Sayangnya, meski bermanfaat untuk mencegah stunting pada anak, konsumsi protein per kapita masih tergolong rendah. Data Susenas 2022 menunjukkan rata-rata konsumsi protein per kapita sehari 62.21 gram (diatas standar 57 gram), tetapi konsumsi telur dan susu 3.37 gram, daging 4.79 gram dan ikan/udang/cumi/kerang berkisar 9,58 persen.

Source