JawaPos.com – Deputi Penindakan dan Eksekusi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Karyoto merespons pelaporan terhadap dirinya ke Dewan Pengawas (Dewas) KPK. Karyoto dilaporkan bersama Direktur Penyelidikan Endar Priantoro terkait pengusutan kasus dugaan korupsi perhelatan Formula E.

Karyoto menyerahkan sepenuhnya kepada Dewas KPK terkait pelaporan dirinya tersebut. “Kalau yang Dewas saya nggak akan bicara. Nanti saya kan dituduh, dilaporkan LSM, jadi kembali ke Dewas saja bagaimana proses pembuktiannya,” kata Karyoto di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).

Karyoto memastikan, tidak akan menghindar apabila diperiksa Dewas KPK. Dia menegaskan, akan hadir jika Dewas KPK memerlukan penjelasan langsung dari dirinya.

“Saya sebagai objek yang diperiksa ya saya akan tepati kalau memang diperiksa,” tegas Karyoto.

Meski demikian, ia belum mengetahui kapan dirinya akan diperiksa Dewas KPK. “Nggak tahu, nggak tahu, tunggu Dewas saja,” ucap Karyoto.

Anggota Dewas KPK Syamsuddin Haris sebelumnya membenarkan, menerima adanya laporan dugaan pelanggaran kode etik terhadap Karyoto dan Endar Priantoro. Keduanya dilaporkan terkait dugaan melanggar perintah atasan.

“Laporan sudah diterima Dewas dan sedang dipelajari, yang dilaporkan Dirlidik dan Deputi Penindakan,” ucap Anggota Dewas KPK, Syamsuddin Haris dikonfirmasi, Selasa (24/1).

Pelaporan terhadap kedua pejabat tinggi di KPK dilakukan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Namun, Dewas KPK tidak menjelaskan secara rinci LSM tersebut.

“Pelapornya dari LSM,” ungkap Haris.

Disinyalir, pelaporan itu dibuat karena tim penyelidik tak kunjung menaikkan status penyelidikan dugaan korupsi Formula E ke tahap penyidikan. Bahkan, tiga pimpinan KPK dikabarkan juga sempat mendatangi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk memaksakan adanya kerugian negara dalam ajang balap Formula E.

Ekspose itu digelar KPK bersama BPK pada Selasa (10/1) lalu yang didampingi tiga pimpinan KPK yakni Firli Bahuri, Alexander Marwata dan Johanis Tanak. Gelar perkara itu juga turut melibatkan tim penindakan KPK termasuk Karyoto, Endar Priantoro, Direktur Penyidikan Asep Guntur, Plh Direktur Penuntutan, Satgas Lidik, Satgas Sidik, dan Satgas Penuntutan.

Gelar perkara oleh KPK itu sempat mendapat kritik dari mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto alias BW. Menurutnya, permintaan audit BPK hanya bisa dilakukan jika kasus dugaan korupsi sudah naik ke tahap penyidikan. Sementara, kasus pengusutan Formula E masih dalam penyelidikan.

“KPK sudah sengaja menarik BPK untuk melakukan tindakan melawan hukum,” ucap BW, Senin (16/1).

BW menilai, terdapat tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan pimpinan KPK. Sebab, tradisi tersebut tidak pernah dilakukan selama KPK bediri.

“Tahapan kasus Formula E baru dalam tahap penyelidikan tapi kemudian dilakukan Ekspose kepada Lembaga lain adalah merupakan hal yang tidak lazim dalam tradisi KPK,” tegas BW.

Sementara itu, Ketua KPK Firli Bahuri sebelumnya telah menegaskan, pihaknya bekerja sesuai aturan dalam menyelidiki terkait laporan dugaan korupsi Formula E. Hal ini merespons adanya tudingan pengusutan dugaan korupsi Formula E yang dinilai dipaksakan.
“Saya ingiin jelaskan saja terkait dengan penyelidikan suatu perkara, itu tunduk pada ketentuan hukum dan undang-undang. Karena sesungguhnya KPK sangat menjunjung tinggi azas tugas pokok pelaksaan KPK, sebagaimana diamanatkan undang-undang,” tegas Firli di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (3/1).

Firli mengklaim, setiap penanganan perkara KPK selalu menjunjung tinggi azas HAM. Dia pun menegaskan, lembaga antirasuah bekerja berdasarkan aturan hukum yang berlaku.

“Kita tunduk pada prinsip-prinsip hukum pidana. Apakah itu diatur UU KPK sendiri atau hukum acara, karena disebutkan di dalam Pasal 38 UU 19/2019 di situ adalah segeala kewenangan yang berkaitan dengan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan yang diatur dalam UU,” pungkas Firli.

Source