DPRD Pastikan Surabaya Sebagai KLA Naik ke Level Penuh

10

JawaPos.com–Wakil Ketua Pansus Raperda Perlindungan Anak Ajeng Wira Wati memastikan jika indikator Kota Layak Anak (KLA) Surabaya terpenuhi untuk naik level. Penentuan indikatornya ada enam klaster.

Keenam klaster itu yakni kelembagaan, hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan lalu pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, serta perlindungan khusus. Menurut Ajeng, Surabaya masih tinggi dan positif terhadap enam klaster itu.

”Yang menentukan KLA atau tidak dari Kementerian PPPA dan indikator positif dari Surabaya masih banyak di 6 klaster itu,” papar Ajeng Wira Wati, politikus Gerindra itu.

Terkait SD dan MI Cokroaminoto, kata Ajeng, pada hearing pertama 24 November 2022 dan hasil di komisi D tetap memastikan keberlangsungan belajar mengajar saat renovasi yang diharapkan tetap berjalan. Tentu sambil menunggu proses IMB ataupun lainnya sesuai dalam perda yang berlaku.

Nah, jika dikaitkan dengan indikator KLA, di kasus Cokroaminoto klaster pendidikan tidak terambil dan tetap berjalan. Dia menyampaikan bahwa proses belajar mengajarnya tidak disegel, yang disegel hanya bangunannya akibat ada proses perizinan yang belum sesuai Perda IMB.

”Dari pihak yayasan yang kini sedang merenovasi bangunan menjadi terhambat akibat penyegelan, padahal sejak awal renovasi, siswa sudah dipindahkan tempat belajar sementara ke rumah warga sekitarnya,” terang Ajeng.

Saat ini, legislatif tengah membahas perubahan perda di pansus penyelenggara perlindungan anak 6 tahun diajukan pemkot pada 8 Agustus 2022. Pansus baru dibentuk pada akhir Desember 2022.

Selain memberikan fasilitas dan wadah anak sepenuhnya di kota layak anak, Ajeng menyebutkan, pansus juga mendukung pembentukan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak. Dengan begitu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) ada unit teknis serta mengkaji pembentukan dewan anak.

”Seperti di Solo. Di Surabaya belum ada,” ucap Ajeng Wira Wati.

Source