JawaPos.com – Laporan terkait kasus kekerasan kepada perempuan dan anak seolah terus bermunculan. Emak-emak tak ingin tinggal diam di rumah dan bungkam. Hal itu dibuktikan dengan ratusan emak turun ke jalan dan mengajak masyarakat untuk ikut tanda tangan di atas banner sebagai petisi penolakan kekerasan kepada perempuan dan anak.

Ratusan emak berkeliling di kawasan Masjid Agung Surabaya (MAS) itu tergabung dari beberapa organisasi kemasyarakatan. Salah satunya Fatayat NU Surabaya. Ketua Fatayat NU Surabaya Camelia Habiba mengatakan, pihaknya ingin mengajak kepada seluruh perempuan untuk berani berbicara dan melawan kekerasan.

Sebetulnya, lanjut perempuan yang juga duduk sebagai Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya itu, tidak hanya perempuan yang dilibatkan. Dia menyampaikan, dalam penandatanganan petisi tersebut, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin itu ikut hadir.

“Kehadiran Cak Imin ini menjadi tanda positif dalam memerangi pelaku kekerasan kepada perempuan dan anak. Ternyata ada laki-laki yang juga mau turut turun,” papar Habiba.

Karena itu, dia mewakili Fatayat NU Surabaya mendorong Pemkot Surabaya untuk segera membuat turunan UU 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Tujuannya memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Sehingga perempuan dan anak bisa mendapatkan hak-hak sesuai UU tersebut.

Di Surabaya, kasus kekerasan kepada perempuan dan anak terus meningkat. Pada 2020, kasus kekerasan kepada perempuan dan anak dilaporkan sebanyak 116 kasus. Kemudian, pada 2021, pemkot menerima laporan sejumlah 138 kasus. Dan, pada tahun lalu, kasus yang dilaporkan lebih dari 138 kasus.

 

 

Source