Indeks Kemacetan di Jakarta Naik, Dishub akan Tutup 27 Titik U-Turn

15

JawaPos.com – Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta menyiapkan solusi jangka pendek dalam mengurai kemacetan Jakarta. Salah satunya adalah menutup jalur putar balik kendaraan atau u-turn di 27 titik. Hal ini untuk merespons meningkatnya angka kemacetan di Ibu Kota.

“Tahap awal untuk jangka mendesak sebagai pengurai kemacetan, kami akan melakukan penutupan 27 titik putaran,” ujar Kepala Dishub DKI Jakarta, Rabu (25/1).

Selain itu, ia juga mengatakan akan ada perubahan arus lalu lintas dari yang semula dua arah menjadi hanya satu arah. “Ada 7 ruas jalan yang sudah teridentifikasi ruas jalan sistem satu arah,” jelasnya.

Namun, Syafrin belum merincikan titik atau ruas jalan mana saja yang akan diterapkan sistem satu arah dan penutupan U-turn tersebut.

“Dalam waktu mendesak kita harapkan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di beberapa lokasi ruas jalan,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menggandeng Google untuk menerapkan proyek Green Light berteknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai sistem pengurai kemacetan di Jakarta.

Proyek Green Light memiliki tujuan untuk mengoptimalkan fungsi lampu lalu lintas untuk mengurangi kemacetan, konsumsi bahan bakar, dan emisi kendaraan memanfaatkan teknologi AI berbasis Android.

“Teman-teman dari Google melaksanakan analisis dan evaluasi terhadap situasi di satu koridor. Setelah itu dapat kami lakukan pengaturan terhadap siklus time seluruh simpang di koridor itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya memperkirakan bahwa indeks kemacetan di Jakarta pada akhir 2022 dan awal 2023 sudah mencapai di atas 50 persen. Angka itu meningkat setelah dicabutnya PPKM.

“Kalau saya boleh melihat situasi, sudah di atas 50 persen kembali. Pada tahun 2017 kita pernah menempati peringkat kemacetan ranking 4 di dunia. Kemarin 2021 kita di rangking 46 karena pandemi,” ujar Ditlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Latif Usman, Selasa (24/1).

Ia mengatakan bahwa angka itu disebut memburuk dibandingkan dengan awal kuartal tahun 2022 yang indeks kemacetannya ada di angka 48 persen.

“Tentunya kalau udah di angka 50 persen sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi di angka 50 persen, di angka 40 persen Jakarta itu sudah tidak aman,” jelas Latif.

Source