Kompol Muhammad Soleh dan Rasa Cintanya pada Karate

12

Kapolsek Sukolilo Kompol Muhammad Soleh tidak bisa terlepas dari dunia karate. Setelah pensiun sebagai atlet 17 tahun lalu, dia memilih menjadi pelatih. Soleh juga menjadi salah satu inisiator terbentuknya Bhayangkara Karate Polda Jatim tahun lalu.Senin

SEBUAH karategi terlihat di salah satu sudut ruang kerja Soleh kemarin (23/1). Lengkap dengan sabuk berwarna hitam. Tanda pemilik baju karate itu sudah di level tertinggi karate.

Soleh memang sudah lama menggeluti ilmu bela diri asal Jepang itu. Jauh sebelum menjadi polisi. ’’Dari SD sudah latihan,” katanya kepada Jawa Pos.

Soleh kecil tertarik dengan karate karena sering melihat kakaknya berlatih di dojo, istilah untuk tempat latihan karate. Lokasinya tidak jauh dari rumah. Dia pun memutuskan ikut.

Dari awalnya ikut-ikutan, pria 45 tahun itu ternyata jatuh hati. Soleh pun tidak ragu mengikuti berbagai kejuaraan untuk mengasah keterampilannya. ’’Ikut kejuaraan pertama langsung dapat medali. Dari situ semakin semangat,” ungkapnya.

Prestasi Soleh sebagai atlet tergolong bagus. Faktor itu juga yang membuatnya lolos seleksi polisi lewat jalur prestasi pada 1998. ’’Ketika sudah jadi polisi, tetap aktif latihan dan ikut kejuaraan,” tuturnya.

Konsistensinya berlatih pun membuahkan hasil. Dia masih sering menyabet juara saat mengikuti kejuaraan. Hingga akhirnya memutuskan pensiun pada 2005. ’’Tapi, setelahnya tetap tidak jauh dari karate,” kata ayah empat anak tersebut.

Soleh bertekad mencetak karateka berprestasi. Dia memutuskan membuat dojo sendiri di kawasan Kendangsari. Namanya Aka Shiro. Dari bahasa Jepang. Artinya Merah Putih. ’’Awalnya cuma punya lima murid,” ungkapnya. Mereka adalah anak-anak di sekitar dojo.

Jumlah murid dojo itu terus bertambah seiring waktu. Banyaknya pendaftar salah satunya karena murid lama sering menorehkan prestasi di kejuaraan.

Soleh belum puas dengan satu dojo. Dia kemudian membuat dua dojo lain secara bertahap. Lokasinya di Manyar dan Keputih. Total muridnya kini sekitar 200 orang.

Tahun lalu, dia juga menginisiasi terbentuknya tim karate Polda Jatim bersama koleganya sesama mantan atlet yang juga menjadi polisi. Yakni, AKP Sudirman dan Aiptu Haryo Widodo. ’’Faktornya karena banyak sumber daya manusia,” jelasnya.

Polda Jatim membuka rekrutmen khusus untuk bintara dengan latar belakang karateka. Sebanyak 36 orang lolos. Soleh dan kolega merasa mereka bisa menjadi salah satu ujung tombak mengharumkan nama polda lewat karate. ’’Usulan kami diterima pimpinan. Bahkan difasilitasi dengan sangat baik,” terangnya.

Kepercayaan itu dijawab Desember lalu. Bhayang kara Karate Polda Jatim meraih juara umum di Kejuaraan Wali Kota Surabaya.

Source