Pakar Psikologi Forensik Duga Komplotan Wowon Cenderung Antisosial

12

JawaPos.com – Ada dugaan kuat kepribadian komplotan pelaku pembunuhan Wowon Erawan alias Aki, Solihin alias Duloh, dan M. Dede Solihudin cenderung antisosial.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menduga warna kepribadian tersebut didasarkan atas kekejaman mereka yang tega menghabisi pelaku yang masih balita. Salah seorang korban mereka adalah Bayu yang berusia 2 tahun.

Reza mengatakan, bagi kebanyakan orang, anak kecil adalah sosok yang harus dilindungi dan dikasihi. Tapi, karena ada kecenderungan berkepribadian antisosial, sikap semacam itu seolah sirna.

”Dengan kepribadian antisosial, mereka menganggap anak itu tidak ubahnya objek belaka. Artinya, tidak ada rasa kasihan (ketika membunuh, Red),” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (21/1).

Seseorang dengan kepribadian antisosial, lanjut Reza, bisa saja menganggap seorang anak adalah sosok penghambat dan pengganggu. ”Sehingga anak itu tidak diperlakukan spesial,” imbuhnya.

Reza menyebut para pelaku serial killer (pembunuhan berantai) yang ditangani Polda Metro Jaya itu ditengarai memiliki motif instrumental. Yakni, menghabisi nyawa orang lain bukan karena semata-mata dilandasi kemarahan atau dendam. Melainkan, membunuh untuk tujuan tertentu.

Reza mengatakan, kesimpulan sementara itu diperoleh berdasar paparan dari kepolisian bahwa para pelaku ingin menghilangkan saksi. Dengan tidak adanya saksi, para pelaku berharap polisi tidak dapat mengungkap mata rantai kejahatan. ”Dan agar mereka (para pelaku, Red) tidak bertanggung jawab secara pidana,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, jejak kekejaman serial killer Wowon, Duloh, dan Dede terungkap setelah penemuan kerangka manusia di halaman rumah Solihin alias Duloh di Kampung Babakan Mande, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat.

Total ada sembilan korban pembunuhan berantai yang dilakukan Wowon dkk. Selain di Cianjur, para korban ditemukan di Kota Bekasi dan Kabupaten Garut.

Source