Yang menonjol dari buku ini adalah cara penulisnya dalam memperlakukan data-data sejarah, pendekatannya yang segar, tafsirnya yang bernas, serta analisisnya yang tajam.

TIDAK banyak yang tahu bahwa tahun-tahun kekuasaan Thomas Stamford Raffles (1811–1816) yang cukup singkat di Jawa telah meninggalkan residu kekerasan budaya. Sebentuk residu yang akan mengendap lama sampai abad-abad berikutnya.

Banyak di antara kita yang menaruh hormat kepada letnan gubernur jenderal Inggris itu karena ”jasa-jasanya” dalam menghidupkan kembali jejak kebesaran Jawa di masa-masa lampau sampai ia ”jatuh” dan ”bersimpuh” di kaki kekuasaan Islam. Melalui bukunya yang terkenal, The History of Java, Raffles berhasil menatahkan diri sebagai orang yang peduli dan simpatik terhadap budaya Jawa.

Namun, melalui buku itu pula, Raffles telah membuat garis pemisah yang tebal antara peradaban Jawa lama yang adiluhung dan Jawa baru yang suram karena datangnya Islam. Pandangan reduktif dan stereotipikal terhadap Islam Jawa sejenis ini –bersamaan dengan rasisme terhadap masyarakatnya– pertama-tama lahir dari rahim ”pendekatan ilmiah”.

Raffles, seorang yang awalnya bukan siapa-siapa tapi memiliki ambisi pribadi dengan modal kepiawaian dalam mencacat dan menulis, mampu menyusun berkeping-keping data yang dihimpun dari seluruh Jawa menjadi narasi panjang yang meyakinkan. Dan, dia menyebutnya sebagai: Sejarah Jawa.

Dengan pendekatan sejarah yang ”ilmiah” ini, Jawa dipilah, dipetakan, dimasukkan ke dalam kategori-kategori, dibingkai ke dalam konsep, dan dimampatkan ke dalam definisi tunggal. Salah satu ”usaha ilmiah” yang berhasil dilakukan Raffles dan dibahas cukup detail di dalam buku ini adalah pembuatan peta Jawa.

Sebelum kedatangan Raffles, tidak ada satu pun peta Jawa yang lengkap dan akurat dalam menggambarkan (kebesaran) Jawa. Raffles tahu, untuk menguasai Jawa, pertama-tama ia harus dipetakan terlebih dahulu.

Dengan bantuan kartograf John Walker, Raffles untuk kali pertama dalam sejarah berhasil membuat peta Jawa yang, bukan hanya akurat dari segi geografis, melainkan juga lengkap secara demografis. Dengan peta ini pula, Raffles yang mewakili bendera Inggris hendak menegaskan supremasinya sebagai pemerintah kolonial paling becus dan dapat diandalkan, tidak seperti pendahulunya yang lamban, Belanda (halaman 134).

Peta Raffles mencakup lebih dari 365 nama tempat seperti desa, kota kecil dan besar, pelabuhan, monumen kuno bersama dengan lebih dari 150 sungai yang mengalir di sepanjang tanah Jawa. Peta Jawa dalam karya Raffles menyajikan secara terang kepada pembaca sebuah Jawa yang ”dapat dijangkau” dan, dengan demikian, ”dapat ditaklukkan” (halaman 123).

Pola pikir semacam itu ditopang oleh rasisme ilmiah; bahwa masyarakat pribumi merupakan ras berbeda dari bangsa Eropa. Karena itu, kolonialisme yang dilakukan Eropa sebagai ras unggul terhadap penduduk Hindia Belanda yang berras rendah dapat dibenarkan. John Crawfurd, kolega cendekianya Raffles, secara terang-terangan melegitimasi penjajahan berdasar rasisme ilmiah ini melalui karyanya.

Sementara itu, Raffles, meskipun tidak secara terang-terangan mengumbar rasisme ilmiah, menulis The History of Java dalam embusan napas yang sama. Menurut Carey, buku yang tampak ambisius dalam menarasikan Jawa ini mengandung residu kekerasan budaya yang bahkan bisa dirasakan sampai sekarang, terutama dalam cara-cara bagaimana Islam Jawa dipandang.

Buku yang ditulis Peter Carey dan Farish A. Noor ini memuat tujuh bab yang masing-masing babnya dapat berdiri sendiri meski temanya saling terkait. Yang menonjol dari buku ini adalah cara penulisnya dalam memperlakukan data-data sejarah, pendekatannya yang segar, tafsirnya yang bernas, serta analisisnya yang tajam.

Mereka –Peter Carey secara khusus– sangat kritis dalam memanfaatkan data yang berkaitan dengan rasisme, baik yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap penduduk pribumi maupun antarpribumi sendiri, meskipun untuk yang terakhir hanya disinggung sekilas, dan karenanya menjadi kelemahan buku ini.

Usaha itu, bagi saya, setidaknya selangkah lebih maju dari yang pernah dilakukan gurunya, M.C. Ricklefs. Sementara sang guru menyajikan data apa adanya terkait pandangan rasis antarpribumi –seperti ketika menampilkan testimoni pasukan Pangeran Mangkubumi terhadap prajurit Madura –Peter Carey secara tidak langsung telah memberikan peringatan munculnya potensi residual dari ”rasisme ilmiah” yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap pribumi; juga akan dilakukan pribumi satu terhadap pribumi lainnya di kemudian hari (halaman 17-18).

Melalui buku ini, Peter Carey dan Farish A. Noor mengajari kita sekaligus memberi contoh bagus bagaimana menulis ulang sejarah secara akademis dengan bahasa yang renyah tanpa kehilangan daya reflektifnya –bukan seperti kebiasaan sebagian budayawan kita yang gemar berefleksi secara kritis, tetapi miskin metodologi sehingga hasilnya dangkal dan sering kali mirip khotbah. (*)

  • Judul: Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda 1808–1830
  • Penulis: Peter Carey dan Farish A. Noor
  • Penerbit: KPG, Jakarta
  • Cetakan: I, Agustus 2022
  • Tebal: xiv + 279 halaman
  • ISBN: 978-602-481-656-8

*) NAUFIL ISTIKHARI, Kepala editor Penerbit Cantrik Pustaka, Jogjakarta

 

Source