Raih Cuan dari Keramik Estetis, Desain Harus Unik dan Menarik

9

Setelah sempat lesu, industri pottery keramik kembali diminati. Peluang usaha tersebut pun menarik. Sebab, margin yang dikantongi cukup besar. Namun, waspadai risiko yang dihadapi jika ingin terjun ke dunia seni aplikasi itu.

RAYMOND Tjiadi mengatakan bahwa pasar keramik tanah air cukup menarik beberapa tahun terakhir. Tak semua kota bisa menerima produk keramik dengan desain yang unik. Co-founder Lumosh itu terjun kali pertama di bisnis tersebut bersama dua temannya, Angeline Ariesta dan Florencia Dewi Marcelina.

”Di awal usaha kami, hampir semua penjualan di Jakarta meskipun produksinya di Probolinggo. Tapi, sekarang pasar Surabaya pun sudah menerima produk kami,’’ tuturnya kepada Jawa Pos (11/1).

Sejarah produksi keramik dari Lumosh sebenarnya cukup tua. Angeline merupakan ahli waris pabrik keramik di Kota Probolinggo itu. Usaha orang tuanya membuat barang produksi massal seperti mug dan mangkuk keramik sejak 1992.

Namun, generasi kedua itu memikirkan bahwa pasar mereka makin tergeser. Sebab, barang impor lebih murah dengan kualitas yang sama. Alhasil, Raymond dan Florencia diajak untuk bisa mentransformasikan produk keramik warisan orang tua. ’’Brand Lumosh resmi berdiri 2016 setelah kami beberapa bulan merancang produk pertama,’’ kata Raymond.

Saat itu, mereka merancang lima lini produk yang dipasarkan secara online. E-commerce ketika itu belum booming. Platform yang digunakan adalah media sosial dan messenger. Mereka menyasar pasar Jakarta karena hanya konsumen ibu kota yang rela membayar lebih mahal untuk mendapatkan tembikar dengan desain unik.

Sayangnya, kisah mereka tak seindah dongeng. Jalan terjal harus dilalui meski sudah merancang produk yang beda dan punya nilai estetis tinggi. Baru pada 2018, Lumosh bisa mencatatkan penjualan yang lancar. Semakin meroket pada 2019.

’’Yang kami pelajari selama membesarkan brand, kunci usaha adalah konsistensi. Jangan turuti mood karena godaan untuk berganti ke usaha lain atau berhenti sangat besar,’’ tuturnya.

Tak lama setelah permintaan tinggi, pandemi terjadi. Namun, perusahaannya justru mendapatkan berkah. Pasalnya, mobilitas masyarakat masih dibatasi sehingga banyak orang yang mengirim kado secara online.

Saat ini, dia membuat kisaran 200–500 pieces keramik per bulan. Produksi tersebut dijual di marketplace secara ritel. Namun, tulang punggung bisnisnya bukanlah produk ready stock. Sebesar 70 persen dari total penjualan masih dari proyek custom dari konsumen korporasi atau penjual bingkisan.

’’Kalau bilang pendapatan, memang paling besar segmen project. Tapi, kami konsisten siapkan lini internal karena itu juga meningkatkan portofolio. Hitung-hitung buat marketing ke calon klien kami,’’ paparnya.

Bagi yang ingin memulai usaha pottery, lanjut dia, titik awal bukanlah persoalan. Banyak juga pengusaha yang memulai langkahnya dari sekadar hobi. Untuk memulai bisnis, pengusaha hanya perlu alat pemutar, oven, beberapa alat ukir, dan bahan baku. Yang paling mahal oven tembikar. Harganya bisa mencapai belasan juta rupiah. ’’Namun, pengusaha pemula pun bisa menitipkan hasil karyanya untuk dibakar,” katanya.

Selama desainnya unik dan menarik, dia yakin ada pasar yang menyerap. ’’Kami tahu bahwa di zaman seperti ini yang penting kolaborasi. Setiap perajin punya keunikan masing-masing. Jadi, kami juga mendukung usaha pottery lainnya,’’ ujarnya.

Dia juga berpesan agar pengusaha pottery memperhatikan rasio gagal produksi. Lumosh biasanya menambahkan sekitar 20 persen dari total pesanan proyek. Jika order 50 pieces, yang dibuat minimal 60 pieces. Seandainya jadi semua, mereka menawarkan sisanya kepada klien.

’’Kalau tak terserap, dijadikan portofolio kami,” ucapnya.

TIPS MEMULAI USAHA POTTERY VERSI RAYMOND TJIADI

– Terus tambah desain baru.

– Rancang produk sesuai momen besar seperti Imlek, Natal, atau Lebaran.

– Perhitungkan benar kemungkinan rasio gagal produksi.

– Rajin ikuti pameran untuk perluas brand.

– Setiap perajin harus punya keunikan masing-masing.

Source