Unair Bikin Program Pasok Kebutuhan Dokter di Pulau Terpencil Jatim

15

JawaPos.com – Kebutuhan dokter spesialis di Indonesia masih sangat tinggi, termasuk Jawa Timur. Khususnya, di kepulauan terpencil. Karena itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan Pemprov Jawa Timur membantu untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis.

Salah satunya, mengirimkan peserta program pendidikan dokter spesialis (PPDS) ke rumah sakit (RS) yang berada di daerah kepulauan di Jawa Timur. Khususnya, di Kabupaten Gresik dan Sumenep. Dekan FK Unair Prof dr Budi Santoso SpOG (K) mengatakan, selama ini memang ada program dari gubernur Jawa Timur terkait pengiriman tenaga dokter spesialis ke pulau-pulau terpencil.

Misalnya, di Kabupaten Sumenep, Madura. Kabupaten tersebut memiliki banyak RS di pulau-pulau terpencil. Namun, terjadi kekosongan dokter spesialis. Begitu juga Pulau Bawean di Gresik.

’’Tiga bulan sekali, Pemkab Gresik dan Sumenep bersama dinas kesehatan (dinkes) menggelar rapat dengan FK Unair untuk pengiriman PPDS yang mau selesai ke RS di kepulauan,” katanya kepada Jawa Pos kemarin (22/1).

Namun, pertanyaannya, apakah untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis harus terus di-supply dari PPDS FK Unair tiga bulan sekali?

Menurut Prof Bus, sapaan karib Budi Santoso, harus ada dokter spesialis organik dari rumah sakit itu yang menetap di kepulauan tersebut. Minimal tidak hanya singgah satu atau dua bulan, tetapi lebih dari satu tahun secara bergantian dan dikirim pemkab masing-masing.

’’Ide itu saya cetuskan untuk kami bekerja sama dengan Pemprov Jatim, dalam hal ini Dinkes Jatim dan Dinkes Sumenep serta Gresik,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, lanjut dia, kerja sama untuk mencetak dokter spesialis organik diwujudkan. Pemkab Sumenep dan Gresik bisa mengirimkan putra daerahnya untuk mendaftar pendidikan dokter spesialis di FK Unair dan menerjunkannya ke RS di kepulauan terpencil di wilayahnya.

’’Tentu dokter yang dikirim untuk pendidikan dokter spesialis itu sudah menjadi pegawai di Dinkes Gresik dan Sumenep untuk dibiayai selama sekolah dan mengabdi kembali di RS yang ada di kepulauan,” jelasnya.

Prof Bus menambahkan, setidaknya dokter spesialis di empat penyakit dasar. Mulai penyakit dalam, obgyn, anestesi, hingga anak. Atau ditambah pediatri, bedah, dan radiologi.

’’Sementara ini, kerja sama ada dengan dua kabupaten. Namun, ke depan akan berkembang, termasuk di daratan yang mungkin belum tersentuh adanya dokter spesialis,” ujarnya.

Dia menjelaskan, FK Unair akan memfasilitasi program afirmasi untuk dokter-dokter spesialis di kepulauan yang bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan kabupaten. Program afirmasi itu siap dilaksanakan tahun ini. Pada April atau Mei nanti, ada tes program afirmasi untuk pendidikan dokter spesialis.

’’Harapannya Juni atau Juli mereka sudah bisa masuk. Minimal di satu RS ada satu calon dokter spesialis yang disekolahkan,” katanya.

TENTANG KEBUTUHAN DOKTER DI JATIM

– Jumlah dokter yang dimiliki Jawa Timur: 15 ribu dokter (umum maupun spesialis).

– Kekurangan sekitar 25 ribu dokter.

– Fakultas kedokteran (FK) menawarkan program afirmasi. Yakni, pemkab yang sudah bekerja sama dengan pemprov bisa menyekolahkan pegawainya menjadi dokter spesialis dan kembali bekerja di RS tersebut.

Diolah dari berbagai sumber

Source